Pekan Biasa II. Minggu, 19 Januari 2025
Sumber Inspirasi:
¤ Yesaya 62:1-5
¤ 1 Korintus 12:4-11
¤ Yohanes 2:1-11
MEREKA KEHABISAN ANGGUR
PERKAWINAN adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk keluarga yang BAHAGIA dan KEKAL. Perkawinan harus dilakukan sesuai dengan ajaran iman Kristiani dan hukum Gereja yang dianut oleh pasangan, calon mempelai.
Gereja dalam Kitab Hukum Kanonik, Kanon 1055 menyatakan lebih tegas mengenai hakikat perkawinan. “Perkawinan pada hakikatnya merupakan suatu perjanjian, di mana seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk persekutuan seumur hidup di antara mereka.”
Bacaan Injil hari ini (Yohanes 2:1-11) mengetengahkan mujikzat pertama yang diperbuat oleh Yesus dalam kisah perkawinan di Kana. Dalam sebuah hajatan perkawinan di Kana, orang-orang di situ kehabisan anggur. Maria ibu Yesus tak tinggal diam. Ia datang kepada Yesus, dan berkata: “Mereka kehabisan anggur.” (ay. 3). Maria hanya menyampaikan, bahwa orang-orang kehabisan anggur, berada dalam kesulitan. Bagaimana menolongnya, itu tergantung Yesus. Mendengar apa yang disampaikan ibunya, Yesus pun berkata: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba” (ay. 4).

Kisah perkawinan di Kana merupakan kisah yang menarik dan kaya dengan makna simbolik. Kisah ini dapat direnungkan dari berbagai aspek. Salah satu aspek adalah peran Bunda Maria. Dari Bunda Maria, kita dapat meneladani kepekaannya yang kuat terhadap situasi di sekitarnya. “Mereka kehabisan anggur.” Seperti para perempuan lainnya, dalam perkawinan di Kana ia pun ikut terlibat dalam urusan rumah tangga, demi kelancaran pesta perkawinan itu. Kekurangan anggur, pastilah juga dilihat oleh mereka yang sibuk di belakang. Namun Maria tidak hanya melihat, tetapi ia dengan cepat bertindak. Begitu mendesaknya kebutuhan itu, sehingga ia tidak bisa melihat cara lain kecuali meminta kepada Yesus, Puteranya. Maria yakin bahwa permohonannya tidak akan ditolak.

Lalu, bagaimana dengan kita?
Kualitas iman kita jelas berbeda dari iman Maria. Kita tidak mencapai tingkatan iman sedalam Maria. Namun, pesan yang jelas dari kisah perkawinan di Kana adalah Yesus senantiasa menolong orang yang berada dalam kesulitan. Problematik utama banyak orang Kristiani, ialah berdoa dan menentukan cara apa yang harus dipakai Tuhan dalam menjawab permohonannya. Ia tidak menyerahkannya sesuai rencana Tuhan. Oleh karena itu, yang diperlukan dari kita adalah datang dengan kerendahan hati dan dengan hati yang terbuka kepada Yesus, memohon pertolongan-Nya. Yesus akan menjawab sesuai dengan kehendak-Nya. (DT).
Have a GREAT SUNDAY
@Dami Tiala
Umat Lingk. Ratu Kenyo
Ev. Gereja Paroki Santo Petrus & Paulus BABADAN Wedomartani, Sleman – Yogyakarta.

