_(asal tulis)_
WES EWES EWES BABLAS ANGINE. Begitu iklan yang dipertontonkan di televisi, iklan *Basuki Antangin.* Yang hangat, ya antangin, *bablas angine* (angin hilang). Masuk angin minum antangin, *methu angine* (keluar anginnya), badan segar dan bugar.
*Medis – Kesehatan*
Istilah masuk angin tidak ada di dunia medis, banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi tidak enak badan. Masuk angin mengacu pada berbagai gejala, seperti: perut kembung, pegal, mual, muntah, batuk, sakit maag, sendawa terus-menerus, dan meriang. Obat masuk angin menjadi obat yang paling sering dicari untuk diminum pada musim hujan, dan atau musim pancaroba. Dengan menggunakan obat masuk angin, tubuh menjadi hangat, sehingga gejala masuk angin berangsur-angsur hilang.
*Psikologi Politik*
Istilah masuk angin saat ini intim dengan dunia hukum dan politik. Akan berbeda halnya, masuk angin yang sering menyerang fisik manusia. Masuk angin dalam hukum dan politik identik dengan *sebuah persekongkolan, persenyawaan kepentingan dalam ranah hukum dan politik untuk mendapatkan sesuatu berupa materi. Konkritnya UANG, HARTA dan KONSESI lain.* Kebanyakan persekongkolan itu cenderung melemahkan daya imun *PERSONAL* dan institusi yang terserang angin godaan dan persekongkolan kejahatan.
*Bagaimana dengan kita?*
Indikasi masuk angin bisa masuk dalam kepribadian manusia yang dapat mempengarhi perilaku manusia, soal *KEBENARAN dan KEJUJURAN.* Dengan begitu, jentik-jentik penyakit moral, membiak dalam kehidupan manusia yang akan menjadi *HEBIT. KOMITMEN MORAL* lepas dan hilang dari budi manusia yang luhur.
@ *Dami Tiala*
Akademisi UNY, Kampus Karangmalang, Sleman – DIY.

