Polres SBD Dituding Lamban Dan Tidak Profesional Tangani Kasus Pengeroyokan Di Wewewa Tengah

Posted by : garudan1 March 29, 2025

 

WEWEWA TENGAH, NTT,GARUDANUSANTARA.Com – Kepolisian Resor (Polres) Sumba Barat Daya (SBD) kembali menjadi sorotan tajam setelah diduga enggan menangkap para pelaku pengeroyokan yang terjadi di Desa Eka Pata, Kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten SBD, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden yang terjadi pada 11 Januari 2025 itu mengakibatkan dua korban, Yohanes Maru dan Yustina Tumba, mengalami luka-luka setelah dikeroyok oleh sekelompok orang.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/10/I/2025/SPKT/POLSEK WEWEWA TIMUR/POLRES SUMBA BARAT DAYA/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR tertanggal 27 Januari 2025, peristiwa ini dikategorikan sebagai dugaan tindak pidana penganiayaan.

Polisi mengacu pada UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP, khususnya Pasal 351 tentang penganiayaan. Namun, hingga saat ini, langkah konkret untuk menangkap pelaku masih nihil.

Menurut keterangan korban, kejadian bermula saat mereka mendengar adanya keributan di kios milik seorang warga bernama Enjel. Yohanes dan Yustina segera berlari ke lokasi untuk melihat apa yang terjadi.

Setibanya di sana, mereka melihat dua kelompok sedang terlibat aksi saling lempar batu. Dalam insiden tersebut, sebuah batu yang dilempar seseorang bernama Lede Dama mengenai pipi kiri Yohanes Maru hingga menyebabkan luka serius.

Situasi semakin memanas ketika sejumlah orang lainnya mulai menyerang Yohanes dan Yustina dengan senjata tajam.

Merasa terancam dan mengalami luka-luka, Yohanes dan Yustina akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polsek Wewewa Timur. Namun, laporan baru dibuat pada 27 Januari 2025, sekitar dua minggu setelah insiden terjadi.

Ironisnya, meski laporan sudah diajukan, pihak kepolisian terkesan tidak serius dalam menangani kasus ini. Tidak ada upaya nyata untuk menangkap pelaku, yang jumlahnya cukup banyak, meskipun bukti dan saksi sudah jelas.

Lambannya penanganan kasus ini oleh Polres Sumba Barat Daya menimbulkan kemarahan masyarakat.

Warga menilai kepolisian tidak profesional dan seakan-akan membiarkan kejahatan ini berlalu begitu saja. Sikap ini memunculkan spekulasi adanya dugaan permainan hukum yang menguntungkan pihak tertentu.

Apakah keadilan di Sumba Barat Daya hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan dan uang?

Masyarakat mendesak aparat kepolisian segera bertindak tegas, menangkap para pelaku, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Jika Polres Sumba Barat Daya terus bersikap acuh, kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan semakin hancur.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian masih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan masyarakat dan dugaan pembiaran terhadap kasus ini. Sikap diam ini semakin menguatkan kesan bahwa hukum di Sumba Barat Daya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.(RT)

RELATED POSTS
FOLLOW US